Thursday, December 8, 2016

Bagaimana mekanisme penggunaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) ?


Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti cara menggunakan KIP untuk menerima manfaat dari PIP, meski distribusi KIP sudah hampir mencapai 100%.

Ada anak-anak yang pas menerima KIP di dalam amplop, amplopnya langsung disobek lalu mereka langsung berbondong-bondong ke bank, dikiranya (uangnya) bisa langsung dicairkan.  Padahal, penerima KIP harus mendaftarkan dirinya dulu di sekolah atau lembaga pendidikan nonformal lain untuk dimasukkan datanya ke data pokok pendidikan (Dapodik).


Setelah diverifikasi dan turun Surat Keputusan (SK) Penetapan Penerima Manfaat PIP, pemegang KIP bisa mencairkan dana di bank penyalur yaitu di Bank Negara Indonesia (BNI '46) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Apa yang dimaksud dengan Program Indonesia Pintar PIP dan KIP?

Program Indonesia Pintar adalah salah satu program nasional (tercantum dalam RPJMN 2015-2019) yang bertujuan untuk:

1. Meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah.
2. Meningkatkan angka keberlanjutan pendidikan yang ditandai dengan menurunnya angka putus sekolah dan angka melanjutkan.
3. Menurunnya kesenjangan partisipasi pendidikan antar kelompok masyarakat, terutama antara penduduk kaya dan penduduk miskin, antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan, antara wilayah perkotaan dan perdesaan, dan antar daerah.
4. Meningkatkan kesiapan siswa pendidikan menengah untuk memasuki pasar kerja atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

Apa yang dimaksud dengan Program Indonesia Pintar melalui pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP)?

Program Indonesia Pintar melalui KIP adalah pemberian bantuan tunai pendidikan kepada seluruh anak usia sekolah (6-21 tahun) yang menerima KIP, atau yang berasal dari keluarga miskin dan rentan (misalnya dari keluarga/rumah tangga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera/KKS) atau anak yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Program Indonesia Pintar melalui KIP merupakan bagian penyempurnaan dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) sejak akhir 2014

Mengapa anak usia sekolah diberikan KIP?
KIP diberikan sebagai penanda/identitas untuk menjamin dan memastikan agar anak mendapat bantuan Program Indonesia Pintar apabila anak telah terdaftar atau mendaftarkan diri (jika belum) ke lembaga pendidikan formal (sekolah/madrasah) atau lembaga pendidikan non formal 
(Pondok Pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM, Paket A/B/C, Lembaga Pelatihan/Kursus dan Lembaga Pendidikan Non Formal lainnya di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama).

Siapa penyelenggara Program Indonesia Pintar ?
Program Indonesia Pintar melalui pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP) diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Apa tujuan dari Program Indonesia Pintar Melalui KIP?

  1. Menghilangkan hambatan anak (usia sekolah) secara ekonomi untuk berpartisipasi di sekolah sehingga mereka  memperoleh akses pelayanan pendidikan yang lebih baik di tingkat dasar dan menengah.
  2. Mencegah anak/siswa mengalami putus sekolah akibat kesulitan ekonomi.
  3. Mendorong anak/siswa yang putus sekolah agar kembali bersekolah.
  4. Membantu anak/siswa kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan kegiatan pembelajaran.
  5. Mendukung penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (9) dan Pendidikan Menengah Universal (Wajib Belajar 12  tahun).


Siapa saja sasaran penerima Kartu Indonesia Pintar/KIP?
Untuk tahun 2016, KIP akan diberikan kepada 19,5 juta anak usia sekolah (6-21 tahun)  baik dari keluarga/rumah tangga tidak mampu yang ditetapkan oleh pemerintah atau yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Apa saja kriteria/ siswa penerima KIP?

  1. Penerima BSM dari keluarga pemegang KPS yang telah ditetapkan dalam SP2D 2014.
  2. Anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga pemegang KPS/KKS yang belum ditetapkan sebagai Penerima bantuan BSM.
  3. Anak usia sekolah (6-21 tahun) dari Peserta Program Keluarga Harapan (PKH).
  4. Anak usia sekolah (6-21 tahun) yang tinggal di Panti Asuhan/Sosial.
  5. /Anak/santri usia 6-21 tahun dari Pondok Pesantren yang memiliki KPS/KKS (khusus untuk BSM Madrasah) melalui jalur usulan Madrasah.
  6. Siswa Anak usia sekolah (6-21 tahun) yang terancam putus sekolah karena kesulitan ekonomi dan/atau korban musibah berkepanjangan/ bencana alam.
  7. Anak usia sekolah (6-21 tahun) yang belum atau tidak lagi bersekolah yang datanya telah direkapitulasi pada Semester 2 (TA) 2014/2015.

Bagaimana mekanisme penggunaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk mendapatkan bantuan pendidikan di Tahun 2016?

Bagi Anak Penerima KIP maupun anak dari keluarga Penerima KKS (tetapi belum menerima KIP) yang putus/tidak lagi bersekolah baik di sekolah formal maupuan non-formal:
 
1.Anak usia sekolah penerima KIP maupun yang tidak menerima KIP (tetapi keluarganya menerima KKS) tetapi putus/tidak lagi sekolah, harus mendaftarkan diri ke sekolah maupun ke lembaga pendidikan non-formal (seperti SKB/PKBM/Paket/Kursus dan Pelatihan, jika tidak dapat masuk ke sekolah) sebelum melaporkan kartu yang mereka terima ke lembaga pendidikan dan mendapatkan manfaat Program Indonesia Pintar.
 
2. Setelah terdaftar, sekolah/lembaga pendidikan tempat anak terdaftar, mengusulkan anak penerima kartu tersebut untuk didaftarkan sebagai calon penerima manfaat PIP baik melalui usulan calon penerima manfaat PIP 2016 sesuai dengan Format Usulan Lembaga ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (seperti terlampir dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan PIP di Kemdikbud) atau melalui aplikasi Verifikasi Indonesia Pintar dalam Dapodik (sesuai dengan kesiapan dari Kementerian pelaksana program).
 
3. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menyampaikan/meneruskan usulan anak calon penerima PIP dari sekolah/SKB/PKBM/lembaga kursus dan pelatihan sebagai usulan ke direktorat teknis pelaksana PIP di tingkat pusat.
Proses Penyaluran Manfaat Program Indonesia Pintar/PIP:
1. Kemdikbud akan menerbitkan Surat Keputusan (SK) Penetapan Siswa Penerima Bantuan PIP dan mengirimkan SK tersebut ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan, daftar penerima manfaat PIP ke lembaga penyalur yang telah ditunjuk.
2. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota akan mengirimkan surat pemberitahuan dan daftar penerima manfaat PIP ke sekolah/lembaga pendidikan non formal lainnya beserta lokasi dan waktu pengambilan dana bantuan.
3. Sekolah/lembaga pendidikan non formal lainnya memberitahukan ke siswa/orangtua waktu pengambilan dana bantuan.
 
4. Siswa/orangtua mengambil dana bantuan ke lembaga penyalur yang ditunjuk

Untuk pertanyaan seputar PIP dan KIP silahkan lihat informasinya klik disini.....

Thursday, December 1, 2016

Ada tiga tipe guru (pendidik)

Berdasarkan pengamatan kami, ada tiga tipe guru (pendidik) yang akan kitajumpai, yakni :

a.       Guru Nyasar
b.      Guru Bayar,
c.       Guru Sadar

GURU  NYASAR 
mendeskripsikan kehidupan Guru yang tidak pernah dirasakan kehadirannya oleh anak didik. Ciri sederhana guru nyasar adalah bekerja bukan panggilan jiwa, bekerja hanya sekedar mengisi waktu luang dan menggugurkan kewajiban. Makna bekerja bagi guru nyasar hanya sebatas   melepaskan predikat  pengangguran.  Guru Nyasar sebenarnya adalah guru yang kehidupannya tersiksa, kegiatan belajar mengajar demikian menjenuhkan dan membosankan.  

Guru nyasar lebih banyak mengeluh setiap kali menemukan ketidaknyamanan dalam berjalannya proses pembelajaran. Jam dinding dikelas bergerak sedemikian lambat seakan baterainya hampir habis sehingga siswa didik adalah bagian dari beban dan masalah. Guru nyasar tidak peduli dan kurang memahami perkembangan anak didik, bahkan  jarang berkomunikasi dengan anak didik.  

Kehadiran guru nyasar bagaikan sosok JAILANGKUNG yang hadirnya tidak diundang dan pulangnya tidak diantar.  Anak didik tidak merasakan kesan mendalam kehadiran sang guru. Guru Nyasar   sedemikian susah beradaptasi dengan perubahan.  Minimalnya ada 5 sifat dasar yang bisa terlihat pada sosok guru nyasar , yaitu M4B ( Mengeluh, Menunda, Malas, Menyalahkan dan Banyak Alasan).  

Berikanlah tugas pada guru nyasar maka dia akan mengeluh, Ajaklah dia berbicara pada perubahan maka dia cenderung menunda, apabila terjadi ketidakberesan dalam hasil maka senjatanya adalah menyalahkan pihak lain sebagai kambing hitam, dan ketika mendapatkan nasehat maupun arahan tugas maka dia banyak beralasan sebagai upaya menolak tugas dan amanah baru.

Guru nyasar tidak akan pernah dirindukan apalagi menjadi idola kebanggaan siswa didik.  Guru nyasar harus segera sadar, kalau tidak sadar akan membuat anak didik kesasar.  Kalaupun sudah diingatkan dan tidak segera sadar, solusi terbaik adalah digantikan. 

GURU BAYAR
mendiskripsikan kehidupan seorang Guru  yang bekerja hanya sekedar memenuhi kebutuhan finansial.  Ada uang aku sayang, tidak ada uang aku melayang.  Guru bayar selalu mengukur segalanya dengan uang.  Pelajaran tambahan adalah UANG, tugas luar juga UANG, professional selalu diukur dengan uang.  Guru bayar pasti akan kecewa, karena tidak semua orang bisa memenuhi alur pikiran dan kebutuhannya.  Guru mendapatkan bayaran memang wajar, namun ketika hanya mau bekerja ekstra karena ada uang ekstra itulah yang membuat guru diperbudak UANG.   

Bagi guru bayar akan menderita sakit hati ketika orang lain yang mungkin secara keilmuwan biasa-biasa saja namun gajinya lebih besar dari dia.  

Ukuran penghargaan bagi guru bayar adalah seberapa besar uang yang dihasilkan. Guru sadar lebih sering menyimpan potensi terbaiknya dikarenakan tidak sepadan dengan uang yang diterimanya. Baginya potensi terbaik hanya muncukl ketika bayarannya juga terbaik.  Kalaupun guru bayar ini mampu melakukan potensi terbaik di level 9 dari range 1- 10, bisa jadi dia hanya melakukan kerja di level 6 dengan alas an dia hanya digaji di level 6. 

Guru bayar harus segera sadar, kalau tidak sadar akan menderita sakit luar dalam. Sakit kronis guru bayar adalah sakit SMS, yaitu Susah melihat oranbg lain Senang, Senang Melihat orang lain Susah. Akibatnya dia akan menderita sakit fisik karena lelah dan sakit psikis karena tidak ikhlas.

GURU SADAR
mendiskripsikan seorang guru yang menjalankan tugasnya dengan bahagia, ceria dan sepenuh jiwa. Guru sadar benar-benar tahu dan sadar bahwa Anak didik adalah amanah yang akan menjadi  investasi dunia dan kebahagiaan di akherat.  Guru tipe sadar mengetahui benar bagaimana perkembangan pendidikan anak didik,  Guru sadar senantiasa mendidik dengan cinta dan melayani sepenuh hati. Guru sadar adalah guru yang mampu mengoptimalkan kecerdasan emosi anak didik . Guru sadar memang membutuhkan uang untuk kehidupannya, namun guru sadar memahami bahwa uang adalah bagian dari efek positip  dari kerja yang profesianal   dia.  

Saya yakin Anda adalah GURU SADAR yang mampu mengajar dengan Dahsyat dan memikat.
  Ada bebarapa cara cerdas yang dapat dilakukan oleh guru sadar, sehingga mampu menjadi guru yang dirindukan, guru dahsyat berhati cahaya, sekaligus menjadi guru yang memikat dan dirindukan.

a.       Cara cerdas pertama,
PASTIKAN BAHWA ANDA ADALAH GURU YANG MENYENANGKAN. 

Itulah modal pertama guru sadar.  Secerdas apapun Anda, setinggi apapun Indeks prestasi Anda, namun kalau menurut siswa, Anda adalah sosok yang tidak menyenangkan, atau kata lain menjenuhkan maka secara tidak langsung Anda telah membuat tembok tebal yang membatasi kecerdasan Anda dengan kesiapan anak didik menerima ilmu Anda. Untuk menjadi guru yang menyenangkan Anda bisa memulainya dengan murah senyum, meyapa anak didik Anda dengan nama panggilannya, ungkapkan kabar bahagia, hargai prestasinya, tangkap basah kebaikannya   dan antusias sepanjang hari. Guru yang menyenangkan akan mampu membuat jam diding kelas sedemikian cepat bergerak sehingga tanpa terasa waktu telah habis.  Dia akan menginspirasi dan dirindukan oleh siswa didiknya.   Untuk cara cerdas pertama akan saya bahas lebih detail pada bab khusus dalam buku ini.

b.      Cara cerdas ke dua

PASTIKAN BAHWA SISWA DIDIK ANDA ADALAH ORANG PENTING BAGI ANDA, SEHINGGA ANDAPUN PENTING BAGI DIA.

Rasakan kehadirannya, maka diapun merasakan kehadiran Anda. Biasakan mengucapkan terima kasih kepada mereka atas kerjasama apapun yang ditunjukkan kepada Anda.  Ucapkan terimakasih atas baju rapi yang dipakainya, ucapkan terima kasih atas ketepatan waktunya, ucapkan terima kasih atas prestasi terbaiknya, ucapkan terima kasih atas PR yang dikerjakannya.  Ucapkan terimakasih atas keseriusannya belajar bersama Anda. 

Hapuskan kata mengeluh dan merendahkan diri didepan anak-anak.  Anda adalah guru tangguh yang pantang mengeluh bahkan menyalahkan didepan anak didik.  Ketahuilah nomor Hand Phone anak didimk Anda, adalah luar biasa ketika anda mengirim sms ketika dia tidak masuk sekolah dan menanyakan bagaimana keadaannya, adalah kebahagiaan ketika Anda mengirimkan ucapan selamat idul fitri kepadanya,   Lebih dahsayt lagi kalau Anda mengetahui hari ulang tahunnya, kemudian memanfaatkan momentum tersebut untuk mengirimkan sms ucapan dan nasehat positif  kepadanya. Kelihatannya biasa namun  lihatlah keajaiban yang terjadi dampaknya luar bisa.  Indah sekali kalau anak didik Anda merasakan dirinya ada dihatri Anda, maka Andapun akan tersimpan rapi dalam memori kebahagiaan didalam sejarah kehidupan anak didik Anda.

c.       Cara cerdas ketiga


PASTIKAN BAHWA ANDA ADALAH MOTIVATOR SEKALIGUS DINAMISATOR ANAK DIDIK ANDA
Mulailah dengan selalu menjaga kata positip, hindari perbandingan yang tidak adil dan buktikan bahwa apa yang anda katakan adalah sebagaimana yang Anda lakukan.  Buatlah sebuah kesan bahwa setiap murid Anda adalah penting.  Apapun yang keluar dari mulut Anda adalah mutiara SYURGA yang membuat murid Anda bergetar, salurkan energy positip (EPOS), berikan motivasi dan inspirasi.  Guru dahsyat dan memikat senantiasa memulai hari-harinya dengan sikap optimis, antusias, riang dan bahagia.

Setiap Anda  adalah guru sukses,  Guru dahsyat senantiasa berusaha menjadi bukti, bukan sekedar menunggu bukti, Guru Sukses senantiasa optimis dengan melihat peluang dalam masalah bukan melihat masalah dalam setiap peluang.
somber: http://tk-tarbiyatunnisaa.com/

Sunday, November 27, 2016

Pendataan Tutor Pendidikan Kesetaraan

Untuk memperoleh data yang lebih valid, maka Pengurus Pusat Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional menyelenggarakan pendataan ulang secara daring atau online.

Untuk itu kepada seluruh tutor pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C diharapkan secara proaktif untuk melakukan input data secara mandiri. Untuk mengisi data secara daring silahkan kunjungi klik tautan ini. Silahkan mengisi data sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.

Pengisian data ini akan sangat membantu Pengurus Pusat Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional untuk menentukan kebijakan bersama dengan pemangku kepentingan dalam rangka pengembangan pendidikan kesetaraan termasuk peningkatan kompetensi tutor pendidikan kesetaraan.

sumber: http://fauziep.com/

Wednesday, November 23, 2016

Pelatihan Operator Dapodik - Dikmas PKBM Tangsel-Banten


Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan mengadakan pelatihan  tentang Dapodikmas (23/11)  bagi operator Dapodik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Lembaga Kursus se-kota Tangerang Selatan Banten.


Data Pokok Pendidikan atau Dapodik adalah sistem pendataan skala nasional yang terpadu, dan merupakan sumber data utama pendidikan nasional, yang merupakan bagian dari Program perancanaan pendidikan nasional dalam mewujudkan insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif.



Tanpa perencanaan pendidikan yang matang, maka seluruh program yang terbentuk dari perencanaan tersebut akan jauh dari tujuan yang diharapkan. Untuk melaksanakan perencanaan pendidikan, maupun untuk melaksanaan program-program pendidikan secara tepat sasaran, dibutuhkan data yang cepat, lengkap, valid, akuntabel dan terus up to date.


Dengan ketersediaan data yang cepat, lengkap, valid, akuntabel dan up to date tersebut, maka proses perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi kinerja program-program pendidikan nasional dapat dilaksanakan dengan lebih terukur, tepat sasaran, efektif, efisien dan berkelanjutan.



 Sehubungan dengan hal tersebut,Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan suatu sistem pendataan skala nasional yang terpadu dan disebut dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).



Dapodik ini dikelola oleh biro PKLN sampai tanggal 30 Maret 2010 diserahterimakan kepada PSP Balitbang.   Data pokok pendidikan awalnya dapat diakses melalui situs dapodik.org yaitu data sejak tahun 2006 sampai 2011


Untuk data tahun 2012 tidak tersedia di situs dapodik.org karena situs tersebut telah ditutup sejak 1 Januari 2012.   Berdasarkan surat edaran dari Kemdiknas no. 1980/P3/TP/2011 tanggal 14 September 2011  data NPSN dan NISN hanya dapat diakses melalui situs kemdiknas.

Sumber data utama pendidikan nasional
1. Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) adalah sistem pendataan sekolah skala nasional dengan memberlakukan suatu kode identitas yang bersifat unik, tunggal dan berlaku seumur hidup kepada seluruh sekolah Indonesia mulai jenjang pendidikan dasar dan menengah hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Termasuk juga sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Departemen Agama. Dengan pendataan sekolah secara terpusat dan online ini, maka pengembangan dan pengawasan program pemerintah yang berkaitan dengan peningkatan dan pengembangan mutu sekolah, seperti program rehabilitas sekolah, pembangunan unit sekolah baru (USB) dan ruang kelas baru (RKB) dapat dilaksanakan dengan lebih akurat, tepat sasaran dan berkesinambungan.



2. Nomor Induk Siswa Nasional (NISN)adalah sistem pendataan siswa skala nasional dengan memberikan kode identitas yang bersifat unik, tunggal dan berlaku seumur hidup kepada seluruh siswa Indonesia pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, serta dapat dimanfaatkan juga pada jenjang pendidikan tinggi. Dengan program NISN, maka seorang siswa tidak perlu berganti nomor induk setiap kali mengalami penggantian jenjang maupun jenis pendidikan. 1(satu) nomor akan digunakan hingga siswa tersebut menamatkan pendidikannya. Dengan NISN ini pula, maka perkembangan riwayat pendidikan para siswa dapat dengan mudah dipantau secara nasional, termasuk juga perubahan data yang terjadi, seperti proses mutasi, tingkat kelulusan hingga data siswa yang putus sekolah. Dengan NISN maka program-program perencanaan pendidikan nasional, pelaksanaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pelaksanaan Ujian Nasional ataupun kegiatan berskala nasional lainnya yang berkaitan erat dengan data siswa dapat lebih terukur dan terjamin keakuratan datanya


3. Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) adalah sistem pendataan pendidik dan tenaga kependidikan skala nasional dengan memberikan kode identitas yang bersifat unik, tunggal dan berlaku seumur hidup kepada seluruh Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang ada pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Dengan memiliki NUPTK, seorang pendidik dan tenaga kependidikan akan lebih mudah memperoleh hak-haknya di dalam program pemerintah, seperti keikutsertaan pada sertifikasi profesi pendidik, tunjangan profesi dan program-program lainnya yang berkaitan dengan pendidik dan tenaga kependidikan.




Sunday, October 2, 2016

“SAATNYA PKBM BERUBAH”,

 PKBM Organisasi Mitra PNF
Oleh Edi Basuki

Dari bincang-bincang santai dengan beberapa pegiat pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), muncul anggapan bahwa PKBM itu kini menjadi sebuah peluang usaha baru di bidang pendidikan yang cukup menggiurkan sekaligus menguntungkan, baik dari segi financial maupun social, bahkan politik.

Bahkan ada yang bilang, hanya bermodalkan uang dua ratus ribu rupiah untuk biaya pembuatan proposal kegiatan, bisa mendapatkan bantuan dana puluhan juta, bahkan ratusan juta. Apalagi, jika ditunjang dengan modal “kedekatan perkoncoan” dengan pejabat, pasti bertambah lancar jaya. Termasuk kesempatan mendapatkan dana hibah.

Ekstremnya, dari dana yang diterima itu, hanya 30% saja yang dibuat kegiatan ‘asal-asalan’ sudah beres. Sementara yang 70% untuk kesejahteraan dan ‘memelihara’ pertemanan agar proposal yang akan dikirim lagi mengalami kendala yang berarti.

PKBM sebagai organisasi mitra ditjen paud dan dikmas, perannya sangat strategis dalam melaksanakan program-program pendidikan nonformal. Keberadaannya memiliki payung hukum yang jelas, diantaranya termaktub dalam UU 23 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dimana dalam pasal 26 ayat (4) dinyatakan bahwa PKBM adalah satuan pendidikan PNF. Juga ada dalam permendiknas nomor 49 tahun 2007, tentang standar pengelolaan pendidikan oleh satuan pendidikan PNF.

Jangkauan kerja PKBM pun sesungguhnya sangat luas, konon biasa disebut dengan istilah tiga dimensi yang dapat dimainkan oleh PKBM. Yaitu bidang kegiatan pembelajaran (learning activities), Yang termasuk dalam bidang kegiatan ini antara lain : (1) Program Pendidikan Anak Usia Dini, (2) Program Pendidikan Kesetaraan SD (Paket A), SMP (Paket B), SMA (Paket C), (3) Program pendidikan Mental dan Spiritual, (4) Program Pendidikan Keterampilan, (5) Program Pendidikan Vokasional, (6) Program Pendidikan Kewargnegaraan, (7) Program Pendidikan Kerumahtanggaan, (8) Program Pendidikan Kewiraushaan, (9) Program Pendidikan Seni dan Budaya, (10) Program Pendidikan Hobi dan Minat, (11) Pendidikan Keaksaraan Fungsional.

Untuk bidang kegiatan usaha ekonomi produktif (business activities), yang bisa dikembangkan diantaranya unit usaha PKBM, Kelompok Belajar Usaha masyarakat, pengembangan usaha warga masyarakat, kerjasama dan jaringan usaha masyarakat, upaya-upaya peningkatan produktivitas masyarakat, penciptaan lapangan kerja baru dan sebagainya.

Didalamnya juga meliputi seluruh aspek usaha mulai dari pembangunan usaha baru, perluasan pemasaran, pengembangan permodalan, peningkatan mutu, peningkatan kemampuan manajemen usaha, peningkatan kemampuan inovasi dan perancangan produk dan sebagainya.

Sementara itu, untuk bidang kegiatan pengembangan masyarakat (community development activities), mencakup berbagai kegiatan dalam rangka penguatan kapasitas komunitas tersebut sebagai suatu kelompok/komunal. Seperti penguatan sarana/prasarana/infrastruktur fisik, pembangunan dan pengembangan sistem yang digunakan dalam komunitas, Penguatan kohesivitas diantara masyarakat, perbaikan dan pengembangan lingkungan, penyuluhan hukum, kesehatan, lingkungan, dan lain-lain.

Ketiga dimensi ini bisa dikerjasamakan dengan berbagai pihak, tidak hanya berkiblat kepada proyeknya kemendiknas saja, tapi semua kemeterian bisa dimasuki, juga lembaga swasta dan kaum pabrikan (dunia usaha), bisa diajak kerjasama dalam berbagai bentuk sesuai aturan main yang disepakati.

Sayang, masih banyak pengelola PKBM yang masih terkungkung asyik menggeluti program pendidikan nonformal. Kebanyakan mereka sudah cukup puas dengan menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan saja. Jika memungkinkan baru melirik program PAUD, TBM, TPA dan keaksaraan.

Semuanya masih berbasis menunggu blogren, bansos, dan hibah, masih sedikit yang berani modal sendiri. Padahal keuntungan sudah didepan mata. Disisi lain PKBM pun masih sering main mata dengan pihak dinas dalam hal pencairan dan daya serap anggaran, sehingga banyak yang praktek pembelajarannya abal-abal dan dibiarkan. Sementara para asesor dan ferivikator dan penilik sekalipun masih hanya sekedar mencatat, menilai dan melaporkan, belum memfungsikan diri sebagai penjamin mutu. Semuanya masih bisa dikompromikan.

Apalagi banyak pemilik PKBM yang merangkap menjadi asesor dan sejenisnya sehingga kepentingan tertentu bisa masuk disitu dan menimbulkan rasa ewuh pakewuh saat melakukan pembinaan. Suka tidak suka inilah sebagian wajah dari PNF. Mungkinkah jargon “SAATNYA PKBM BERUBAH”, menemukan marwahnya?. Wallahu alam bishowab.*[edibasuki/humasipabi.pusat]
sumber: http://fauziep.com

Tuesday, September 13, 2016

Kompetensi Guru, Digugu dan Ditiru

GURU dapat diartikan sebagai profesi yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspek, baik intelektual, emosional maupun spiritual.Dalam bahasa teknis edukatif, guru terkait dengan kegiatan untuk mengembangkan peserta didik dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Guru mengembangkan potensi positif jasmani dan rohani peserta didik.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan guru  adalah pendidik  professional dengan tugas utama  mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Guru dalam Bahasa Jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakatnya. 

Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid.Sebagai guru harus ditiru, artinya seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua muridnya. Akan tetapi banyak kita lihat guru yang yang tidak memiliki kepribadian yang baik, bahkan menjadi pendidik yang kasar dan keras dengan perilaku yang tidak layak dijadikan sebagai panutan.Mungkin selama ini input yang diperoleh guru sebagi pekerjaan sampingan yang tugasnya hanya mengajar tanpa lagi mengesampingkan tugas-tugas lainnya.

Padahal tidak harus demikian, sebagai suatu pekerjaan profesional, seorang guru perlu memiliki kompetensi agar bisa dihargai dengan baik.

Sebagai modal dasar dalam mengembangkan tugas dan kewajibannya. Antara lain:
1. Kompetensi personal artinya seorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap yang patut untuk diteladani.
2. Kompetensi profesional, artinya seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, mendalam dari bidang  studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
3. Kompetensi sosial, artinya seorang guru harus mampu berkomunikasi baik dengan siswa, sesama guru maupun masyarakat luas.

Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005, kompetensi guru terdiri atas kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional, yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Sedangkan menurut Cooper, menyatakan bahwa kompetensi guru dibagi empat yaitu:
1) Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia.
2) Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya.
3) Mempunyai sikap yang tetap tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat, dan bidang studi yang dibinanya.
4) Mempunyai keterampilan teknis mengajar.Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar para siswa berada pada tingkat yang optimal. Profesional guru dibangun dengan melalui berbagai penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata diperlukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi seorang pendidik.

Pada hakikatnya guru dan peserta didik itu satu. Mereka satu dalam jiwa meski terpisah dalam raga. Raga mereka boleh terpisah tetapi jiwa mereka tetap satu yang kokoh bersatu. Posisi kadang berbeda karena bisa bergantian, mereka seiring dan setujuan untuk keberhasilan proses pembelajaran.
Kesatuan jiwa guru dengan peserta didik tidak dapat dipisahkan oleh dimensi ruang, jarak, dan waktu. Tidak pula dapat dicerai-beraikan oleh daratan, lautan, dan udara.

Guru tetap menjadi guru bagi peserta didiknya sepanjang waktu. Meskipun mereka telah lulus dalam menempuh pendidikan di institusi yang diasuh oleh gurunya tersebut.Menjadi guru berprestasi sebuah penghargaan yang diberikan atas pekerjaan yang selama ini dikerjakan dan memberikan  motivasi yang baik agar pada nantinya lebih bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian.

Setiap orang pasti ingin menjadi guru, namun tidak semua orang yang bisa menjadi guru sebab suatu pekerjaan yang dilaksanakan dengan penuh kesabaran dan penuh dedikasi yang tinggi. Seorang guru diberikan amanat untuk mencerdaskan anak bangsa menjadi orang baik dan orang yang berguna.Saya teringat sebuah quote salah seorang guru saya di SMK, saat itu beliau berkata:

"Jika suatu saat nanti kalian sukses dan suatu hari bertemu salah seorang bapak/ibu guru kalian saat sekolah, jangan pernah menyebut mereka mantan guru. Karena guru tidak akan pernah menjadi seorang mantan. Guru akan tetap menjadi guru kalian sampai kapanpun nanti. Ibarat ilmu-ilmu yang telah mereka berikan pada kalian hingga kalian bisa menjadi orang sukses nanti, ilmu-ilmu itu akan tetap abadi pada kalian, tak akan pernah berubah sebutannya. Begitulah makna seorang guru dalam hidup kalian sebenarnya. Tidak akan pernah ada yang namanya mantan guru."

Terima kasih Pak, terima kasih Bu. Tanpa kalian kami dulu hanyalah anak muda labil yang tersesat dalam persimpangan jalan hidup yang membingungkan. Kini kami telah menjadi "seseorang" yang akan meneruskan perjuangan diranah profesi masing-masing. Berjuang dengan segala ilmu yang telah kalian berikan hingga tak ada lagi tetes darah dan detak jantung di dalam tubuh kami. Berjuang untuk membuat kalian bangga telah menjadi guru kami.Selamat hari guru untuk seluruh guru di Indonesia.

Fadly AlwahdySarjana Akuntansi-Universitas AirlanggaPendiri dan Direktur Komunitas @JagoAkuntansi Indonesia (KJAI)

Source: http://news.okezone.com/read/2013/11/27/373/903777/kompetensi-guru-digugu-dan-ditiru

Saturday, September 10, 2016

Sosialisasi Kurikulum bagi Pengelola dan Tutor PKBM di Tangsel Banten

Sosialisasi Kurikulum bagi Pengelola dan Tutor PKBM di Tangsel Banten

Narasumber  kali ini adalah Fauzie P Praktisi dan pemerhati pendidikan nonformal dan informal. Saat ini berstatus sebagai Pamong Belajar Madya pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinas Dikpora DIY). Kajian yang digeluti antara lain kursus dan pelatihan, pendidikan kesetaraan, pendidikan keaksaraan fungsional serta peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal.


Sunday, September 4, 2016

Standar Kompetensi Paket C

Mengajar bukanlah menyelesaikan buku, tetapi bagaimana tutor/guru menyelesaikan kompetensi para siswanya. Sehingga sumber belajar tidak saja berpatokan pada satu buku, tetapi bisa berkembang dari berbagai sumber. Karena itu yang menjadi patokan adalah standar kompetensi itu sendiri.
Berikut ini  Beberapa standar kompetensi Paket C yang dibuat oleh Litbang Kemendiknas RI
Perbandingan:

Monday, August 15, 2016

PERINGATAN HUT RI ke 71 Tahun 2016



Dalam rangka bekerja nyata mengisi dan memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indinesia (HUT RI) ke 71 Tahun 2016 .   Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat MABES TANGSEL  akan mengadakan Lomba Menyanyi dan Lomba Pidato  yang terbuka untuk Umum, Siswa PKBM dan Tutor PKBM se Kota Tangerang Selatan.

Untuk Informasi Selengkap nya  dan Pendaftaran silahkan menghubungi Panitia :
Sdr  Januri : 08787119-7856 -  UCUP (08966-5068-087 )-  FATMA (0895-1464 - 5315 ) 

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat  (PKBM ) MABES Tangsel Komp. Ruko Prima Blok B No.15 Sasak Tinggi, Ciputat Tangerang Selatan – BANTEN

BABAK PENYISIHAN LOMBA
MENYANYI  : Tgl. 12 sd. 21 Agustus – ONLINE (rekaman video  di kirimkan ke Panitia)
Lagu yang dilombakan antaralain adalah lagu:' Tangsel Rumah Kita Bersama" ciptaan: Sonny Mamondol
PIDATO         : Tgl. 12 sd. 21 Agustus – ONLINE  (rekaman video  di kirimkan ke Panitia)
OLAH RAGA: Tgl. 20  sd. 21 Agustus
Catur Dan Tenis Meja –  Tgl. 20 sd. 21 .
MENGGAMBAR      : Tgl. 20 sd. 21 Agustus

BABAK FINAL – PANGUNG SENI & HIBURAN 
Tanggal 28 Agustus Pukul 08:00 sd  21:00 WIB
Penampilan Finalis Lomba Menyanyi, Lomba Pidato, Catur, Tenis Meja,
Hiburan Music,  Seni Tari  dan Pencak Silat PKBM Setu, PKBM Mabes,  PKBM2 di Tangsel

sumber: PKBM Bina Insan Kamil Tangsel

Friday, August 5, 2016

Pencerahan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)

Metamorfosis (Gagal) SKB
Oleh Agus Sadid

Pendahuluan

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) merupakan UPT Dinas Pendidikan Kab/kota yang membidangi permasalahan Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI). Keberadaan SKB memang terkesan “sembunyi” dari gempita pendidikan formal (sekolah). Padahal sistem pendidikan kita secara tegas menyebutkan tiga jalur pendidikan untuk melayani kebutuhan belajar masyarakat yaitu jalur (1) formal (2) non formal dan (3) informal. Dimana kedudukan ketiga jalur pendidikan tersebut saling melengkapi dan memperkaya pendidikan nasional kita. SKB sebagai UPT baik sebelum dan pasca Otoda memiliki tugas dan fungsi menyelenggarakan program percontohan PNFI dan melaksanakan tugas teknis dinas pendidikan kab/kota di bidang PNFI.

Pekerjaan teknis inilah yang terkadang disebut tumpang tindih dengan bidang PNFI dinas pendidikan kab/kota. Karena sebutan tugas tersebut, dipahami sebagai “perampasan” tugas bidang PNFI. Misalnya, bidang PNF melaksanakan kegiatan pelatihan, SKB juga melaksanakan kegiatan yang sama dan dengan sasaran yang sama pula. Padahall jika dipahami dengan baik, paham aturan, maka dinas pendidikan tidak bisa melaksanakan program teknis seperti pelatihan atau bimbingan reknis. Dinas pendidikan hanya bekerja di ranah regulasi,kebijakan dan pembinaan dan pengawasan. Pekerjaan pelatihan merupakan ranahnya UPT teknis. Intinya, ada kesan “rebutan kue” anggaran di bidang PNFI. Suka atau tidak suka, kesan inilah yang muncul dna harus dterima dengan pahit.

Memori Kejayaan

SKB sebelum era Otoda secara teknis dibina oleh Ditentis Dirjend PNFI secara administrasi berada di bawah dinas Pendidikan kabkota. Keteraturan, ketepatan dan keterlaksanaan program PNFI di SKB saat itu sangat baik, karena pusat memfasilitasi semua program PNFI. Pasca Otoda, mulailah satu persatu SKB kab/ kota mengalami “kebangkrutan” miskin anggaran dan akhirnya banyak SKB yang colaps. Hingga saat ini SKB tinggal menunggu “kehancuran” saja. Dalam posisi ini, pihak dinas Pendidikan kab/ kota terkesan “lepas tangan” mind setnya tetap sama bahwa SKB adalah urusan pusat. Padahal konsekwensi dari Otoda, karena urusan pendidikan sudah diserahkan kepada daerah, maka pemerintah daerahlah yang harus “menghidupi” SKB mellaui kucuran dana APBD. Namun sungguh tak pernah “sirih bertemu pinang” alias gagal paham tentang kewajiban pemerintah daerah terhadap SKB.

Kejayaan SKB sebelum Otoda sangat jelas terlihat, dilihat dari sisi anggaran dan keberagaman program PNFI, pusat telah memfasilitasi SKB dalam bentuk Daftar Isian Kegiatan DIK) sebagaimana dalam Permendikbud nomor 023/0/1997 tentang Rincian Tugas dan Funsi SKB. SKB hampir dapat memenuhi semua kebutuhan belajar masyarakat. Gaung SKB sampai tembus ke tingkat nasional. Warga belajar binaan SKB juga banyak yang meraih prestasi ditingkat nasional, dan telah membuktikan keberhasilan dalam meniti hidupnya. Pada skala lokal, program SKB khusus PNFI mampu menjangkau semua kecamatan yang ada di kabkota. Bertlolak belakamg dengan kondisi sekarang, kini kejayaan SKB telah berakhir. Siapa yang patut disalahkan? Pemerintah Daerahakah? Kepala SKB kah? Pamog Belajar kah?. Kini mengurai siapa yang salah atas kebangkrutan SKB ibarat menegakan benag basah.

Metamorfosis (gagal) SKB

Era Otdda sebetulnya memberikan harapan yang segar bagi SKB. Momen ini diharapkan menjadi masa kebangkitan jalur PNFI sebagai jalur alternatif bagi masyarakat dalam mengakses pendidikan. Mencermati pahitnya kenyataan yang ada, maka metamorfosis I SKB mengalami gagal total (Gatot). Terlau banyak harapan baik disematkan kepada yang namanya Otoda, sehingga Otoda membius kita semua. Alih-alih bukan harapan manis yang didapat tetapi “malapetak” bagi dunia PNFI khususnya SKB. Bagaimana SKB mampu maksimal melayani kebutuhan belajar masyarakat? bagaimanaSKB menjadi pusat percontohan pengembangan PNFI jika dukungan Pemda terutama anggaran sangat tidak pantas. Pertarungan dan persetruan antara bidang PNFI justru semakin melebar. Seperti film karton Tom and Jerry.

Permendikbud nomor 4 tahun 2016 tentang Alih Fungsi SKB menjadi satuan pendidikan nonforma “terpaksa” diterbitkan. Mengapa ada kata “terpaksa” karena sesungguhnya yang memaksa terbit adalah pemerinah pusat bukan pemerintah daerah. Alasan terbitnya Permendikbud tersebut adaah (1) memperkuat SKB dalam penyelenggaraan program PNFI, (2) mempertegas posisi SKB sebagai satuan pendidikan sebagaimana sekolah-sekolah sehingga jika sudah menjadi satuan pendidikan maka pusat dapat meninterfensi SKB dengan program BOS, DAK, Bansos, PIP, KIP, revitaisasi, dan akreditasi lembaga, dan (3) memfasilitasi SKB dengan program-program peningkatan mutu. Gencarnya pemerintah pusat mensosialisasikan pentingnya SKB beralih status menandakan bahwa memang pemerintah pusat berkepentingan dengan SKB. Semangat Permendikbud tersebut adalah untuk perubahan dan kejelasan nasib SKB dimata daerah.

Permendikbud tersebut merupakan bentuk metamorfosis II dari SKB, metamorfosis dari SKB yang “hancur lebur tanpa asa” menjadi SKB yang jaya dan sarat kegiatan. Apa lacur fakta yang terketemukan, bahwa substansi Permendikbud nomor 4 tahun 2016 tersebut ternyata tidak sesuai antara harapan dan kenyataan. Banyak hal yang sangat bertentangan dengan kehendak pemerintah daerah khususnya bagi kepala SKB saat ini. Perubahan alih status tersebut telah menggeser eselonisasi SKB yang semula karena sebagai UPT adalah eselon IV maka setelah menjadi satuan menjadi non eselon. Pada sejumlah daerah tunjangan eselon dan TKD untuk pejabat eselon IV mencapai 2.5jt-5jt, tetapi setelah non eselon maka kepala SKB tidak ada tunjangannya. Selanjutnya, sebagai kepala SKB adalah pamong belajar yang diberi tugas tambahan sebagai kepala SKB. Faktanya, hampir 70% kepala-kepala SKB yang diangkat berasal dari pejabat struktural, dan jika diterapkan maka akan banyak jabatan struktural yang hilang. Hlangnya jabatan struktural ini merupakan “bencana” karena sejujurnya di era Otoda sekarang memperoleh jabatan struktural adalah kehormatan dan prestise.

Imbas dari kondisi ini maka, banyak pemerintah daerah (kepala Dinas, kepala SKB) yang proaktif untuk berkonsultasi dengan Bagian Organisasi atau Asisten I terkait dengan percepatan keluarnya Perbup/Perwali tentang alih status SKB dari UPT menjadi satuan pendidikan non formal. Bahkan beberapa provinsi menolak secara tegas kebijakan alih status tersebut. Sesungguhnya yang dibutihkan SKB saat ini adalah penguatan dan fasilitasi program PNFI. Pemerintah pusat sering mengatakan bahwa selama menjadi UPT maka program yang ada di SKB tidak bisa diakreditasi. Jika kita bandingkan dengan UPT Puskesmas, UPT Uji KIR, UPT Pertanian, maka mereka harus diakreditasi. Instansi teknis wajib diakreditasi, karena dalam UPT tersebut melekat fungsi pelayanan kepada masyarakat. Argumentasi pemerintah pusat tentang SKB tidak bisa diakreditasi jika menjadi UPT adalah kesalahan besar. Jaminan pemerintah pusat bahwa SKB setelah berubah menjadi satuan pendidikikan nonfornal juga hanya janji palsu. Saat ini SKB yang telah berubah menjadi satuan pendidikan sebnyak 50 lembaga, dari jumlah tersebut janji akan difasilitasi anggaran mencapai 1-2Milyar belum pernah terbukti. Terlebih dengan kondisi finansial negara yang saat ini mengalami defisit hingga 1.83% dan pemotongan anggaran kementrain tahap II mencapai 133.1Triliun. maka janji tersebut dipastikan makin jauh api dari panggang.

Metamorfosis II SKB kembali mengalami kegegalan, nampak pada tupoksi SKB pasca Permendikbud nomor 4 tahun 2016 yaitu fungsi pembinaan, pelatihan dan bimbingan teknis kepada satuan PNFI dan atau pendidik dan tenaga kependidikan PNFI tidak muncul, padahal dalam Surat Dirjend PAUD dan Dikmas Nomor 1085/C.C4/PR/2015 tanggal 3 Juli 2015 disebutkan jika SKB beralih fungsi maka SKB memiliki 7 tugas fungsi pokok salah satunya adalah fasilitasi peningkatan mutu PTK PAUD dan Dikmas dan Pembinaan kepada satuan PAUD dan Dikmas. Ketidaksinkronan antara Surat Dirjend PAUD dan Dikmas dengan Permendikbud tersebut patut dipertanyakan dan ini menimbulkan kekecewaan bagi SKB. Dari 7 tugas dan fungsi SKB sebagaimana dalam surat Dirjend tersebut praksis hanya 1 yang diakui yaitu penyelenggaraan program PNFI. Jika sudah demikian, maka kedudukan SKB pasca Permendikbud tersebut menjadi sangat kecil, skala kecamatan tidak bisa menjangkau semua kabupaten/kota.

Metamorfosis Harapan

Kegagalan-kegagalan SKB dalam bermetamorfosis membuktikan bahwa terdapat kesalahan berpikir dan membuat keputusan tentang bagaimana mengoptimalkan SKB sebagai agen dalam pengembangan program PNFI dilapangan. SKB sesungguhnya merupakan main agen yang berfiungsi sebagai  motor penggerak utama masyakat dalam belajar dna membelajarkan masyarakat sepanjang hayat. SKB wajib harus kuat dan berkualitas, dengan jangkauan (coverage) luas meyentuh semua kecamatan di kabupaten/kota. Begitu banyak permasalahan bidang PNFI baik program, penataan lembaga, manajemen dan ketenagaan PTK PNFI, dan itu semua hanya dapat dilakukan oleh SKB. Pada poin ini maka SKB harus diperkuat dari sisi program, anggaran dan mutu tenaga Pamong Belajarnya.

Perubahan status SKB dari UPT menjadi satuan pendidikan sesungguhnya mempersempit ruang gerak SKB dalam memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat marginal. Begitu banyak permasalahan buta aksara, pengangguran, kemiskinan, kesenjangan mutu pendidik dan tenaga kependidikan PNFI . SKB justru harus hadir pada saat rakta membutuhkan layanan pendidikan PNFI, negara harus hadir saat rakyat menjerit karena terhimpit kemiskinan, buta aksara, pendidikan mahal. SKB merupakan representasi dari negara yang siap memberikan jawaban kebutuhan belajar mereka. SKB harus menjemput bola, melakukan pendataan secara komprehesif dan memberikan pembinaan teknis kepada PTK PNFI sehingga dalam pelaksanaannya terdapat peningkatan mutu para pelaksana PNFI dilapangan. Permendikbud nomor 4 tahun 2016 bukan merupakan jawaban atas permasalahan yang membelit SKB, justru Permendikbud tersebut merupakan “pengkebiran” atas tugas dan fungsi SKB selama ini.

Metamorfosis yang diharapkan muncul adalah metamorfosis SKB yang kuat dan profesional dalam menjalankan tupoksinya. SKB sebagai UPT sangat bisa dilakukan akreditasi, karena sebagai pelayanan masyarakat maka akreditasi merupakan jaminan mutu atas kualiats lembaga tersebut. SKB bermetamorfosis menjadi UPT yang memilki kewenangan luas dalam melaksanakan dan memberdayakan masyarakat melalui pelatihan, bimbingan teknis dan pengembangan model PNFI. Permendikbud yang harus keluar adalah Permendikbud tentang Penguatan SKB sebagai UPT, sehingga jika sudah demikian maka SKB memiliki otoritas anggaran yang kuat. Inilah yang diinginkan dari metamorfosis SKB sehingga siap memberikan pelyanan kepada “wong cilik” sesuai dengan Nawa Cita pemerintahan Jokowi-JK.

Kesimpulan

Terdapat 400 lebih SKB kabkota di Indonesia, dan hingga saat ini prosentase SKB yang berubah sesuai dengan Permendikbud tersebut tidak lebih dari 20%, artinya bahwa lambanya kabupatenkota dalam merespon perubahan tersebut menunjukan bahwa adanya keengganan, distrust karena apa yang disepakati dalam pertemuan kepala-kepala SKB se Indonesia di Jakarta-Bandung tidak sesuai dengan harapan yang disematkan. SKB hanya bisa bangkit dan jaya jika ada regulasi terkait dengan Permendikbud tentang Penguatan SKB sebagai UPT dibidang PNFI. Sesungguhnya metamorfosis SKB akan benar-benar terancam gagal jika pemerintah tidak memenuhi janji-janji untuk menguatkan SKB. Dualisme SKB akan muncul yaitu SKB sebagai UPT dan SKB sebagai satuan pendidikan nonformal, dan akhirnya babak baru “perang” dua jenis SKB akan segera dimulai.

Pemerintah harus segera tanggap, karena konflik horizntal akan segera pecah. Jika prinsip pemerintah pusat adalah “biar saja,bagi SKB yang tidak mau jalan dengan satuan pendidikan, kita hanya mengurus SKB yang telah berubah menjadi satuan” maka justru kita semua masuk dalam golongan negara yang zholim. Masalah SKB adalah masalah pelayanan kkebutuhan belajar masyarakat kepada masyarakat kecil. Pemerintah pusat tidak boleh abai dengan konflik kepentingan dan tarik ulur SKB menjadi satuan dan SKB tetap menjadi UPT, ingatlah selalu samikna wathona.

 sumber: Pencerahan Pendidikan Nonformal

Monday, June 6, 2016

Standar Kompetensi Lulusan Kursus dan Pelatihan Berbasis KKNI


Standar Kompetensi Lulusan  Kursus dan Pelatihan yang selanjutnya disebut  Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai  pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik pada lembaga kursus dan pelatihan serta bagi yang belajar mandiri  dan sebagai acuan dalam menyusun, merevisi, atau memutakhirkan kurikulum.
SKL disusun sebagai pelaksanaan amanah PP Nomor 19 Tahun  2005  tentang Standar Nasional Pendidikan dalam hal penyusunan suatu Standar Kompetensi Lulusan dan Permendiknas Nomor 47  Tahun  2010  dan Permendikbud Nomor 31  Tahun  2012 tentang SKL Kursus dan pelatihan. Pada tahun 2009, dokumen SKL untuk 16 bidang telah selesai disusun dan ditetapkan oleh Mendiknas tahun 2010.  Selanjutnya SKL 10 bidang kursus dan pelatihan telah berhasil disusun tahun 2010 dan ditetapkan tahun 2012.
Dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 8  Tahun  2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), maka SKL yang telah disusun tersebut perlu dikaji keselarasannya dengan kualifikasi pada KKNI. Revisi SKL ini juga sekaligus dimaksudkan untuk mengakomodasi perubahan kebutuhan kompetensi kerja dari pengguna lulusan di dunia kerja dan dunia industri.
Oleh karena itu diterbitkan Permendikbud nomor 5 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan  Kursus dan Pelatihan, yang berbasis KKNI. Adapun Standar Kompetensi Lulusan dimaksud dalam Permendikbud tersebut meliputi bidang keterampilan sebagai berikut:
  1. Elektronika dasar jenjang III;
  2. Desain grafis jenjang II dan jenjang III;
  3. Animasi jenjang II, jenjang III, dan jenjang IV;
  4. Jaringan komputer dan sistem administrasi jenjang III;
  5. Teknisi komputer jenjang III;
  6. Pastry dan bakery jenjang III;
  7. Fotografi jenjang III dan jenjang V;
  8. Pekarya kesehatan jenjang II;
  9. Mengelas dengan las busur manual jenjang I;
  10. Mengelas dengan las busur manual jenjang II;
  11. Mengelas dengan las busur manual jenjang III;
  12. Teknik kendaraan ringan jenjang II;
  13. Teknik kendaraan ringan jenjang III; dan
  14. Teknik kendaraan ringan jenjang IV.
Untuk mengunduh Permendikbud nomor 5 Tahun 2016 beserta lampirannya silahkan klik di sini.

sumber: http://fauziep.com

Sunday, May 29, 2016

Daftar Juara GTK PAUD dan Dikmas berprestasi tingkat nasional tahun 2016



Palu (28/05/2016) Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan PAUD dan Dikmas sudah ditutup secara resmi pada Jumat kemarin (27/05/2016) oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Ballroom Hotel Mercure Palu, Sulawesi Tengah.

Berikut ini daftar 16 jenis GTK PAUD dan Dikmas berprestasi tingkat nasional tahun 2016. Kepada para juara I diberi hadiah pembinaan sebesar Rp. 30 juta, juara II Rp. 25 juta, juara III Rp. 20 juta rupiah, juara harapan I Rp. 15 juta rupiah dan juara harapan II Rp. 10 juta. Seluruh juara pertama ditambah mendapat hadiah berupa laptop.

Guru Kelompok Bermain/Taman Penitipan Anak/Satuan PAUD Sejenis
Juara I     Tri Lestari Rakhmawati, SE.     Kalimantan Utara
Juara II     Didiek Wahyudi     Sumatera Barat
Juara III     Marhaedah, M.Pd.     Kalimantan Timur
Harapan I     Maria Elviras, S.Pd.     Nusa Tenggara Timur
Harapan II     Lilis Suryani, S.Pd.     DI Yogyakarta

Pengelola Kelompok Bermain/Taman Penitipan Anak/Satuan PAUD Sejenis
Juara I     Ismuningsih, MA.     DI Yogyakarta
Juara II     Nelti Riska     Riau
Juara III     Atikah Susilawati, S.Pd.     Jawa Barat
Harapan I     Evawati, S.Pd.     Sumatera Barat
Harapan II     Novi Tri Susanti, S.Pd. AUD     Jawa Tengah

Pamong Belajar
Juara I     Ika Afliana Dahliani, S.Pd.     Kalimantan Selatan
Juara II     Kholifah Dwi Untari, S.Pd.     Jawa Timur
Juara III     Sugiran, S.Pd., MM.     DI Yogyakarta
Harapan I     Yaya Sukarya, M.Pd.     Jawa Barat
Harapan II     Siti Mubarokah, S.Pd.     Kalimantan Timur

Penilik
Juara I     Etri Jumiastuti, S.Pd.     DI Yogyakarta
Juara II     Dra. Endah Sutiya, M.Si.     DKI Jakarta
Juara III     Woro Hastintriningsrih, SP.     Jawa Tengah
Harapan I     Arifudin, S.Pt., M.Pd.     Nusa Tenggara Barat
Harapan II     Sakinah,S.Pd.     Sumatera Barat

Pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
Juara I     Suwanto     Jawa Tengah
Juara II     Guntari Hudiwinarti, SE., MM     Jawa Timur
Juara III     Darmiah, SE.     Kalimantan Utara
Harapan I     Cecep Hidayat, S.Sos., S.Pd.I, MT     Jawa Barat
Harapan II     Syahrudin, S.Kom.     DKI Jakarta

Pengelola Taman Bacaan Masyarakat
Juara I     Nurachman, S.Ag., S.Pd., MM.     Jawa Barat
Juara II     Dayang Suriani, M.Pd.     Kalimantan Timur
Juara III     Mustofa     Banten
Harapan I     Nursyida Syam, Amd.     Nusa Tenggara Barat
Harapan II     Dimas Ari Pamungkas, S.Pd. SD     Jawa Tengah

Tutor Pendidikan Keaksaraan
Juara I     Muhammad Solihin, S.Pd.     Kalimantan Timur
Juara II     Dawam Abdul Hamid, S.Pd.I     Jawa Tengah
Juara III     Nila Rahmi, S.Pd.     Jawa Timur
Harapan I     Desri Susilawani, S.Pd.I     Bangka Belitung
Harapan II     Nunung Novianti, S.Pd.     Riau

Kepala Sanggar Kegiatan Belajar
Juara I     Eko Jatmiko     DKI Jakarta
Juara II     Sukrisyadi, S.Pd.     Jawa Tengah
Juara III     Drs. Moh. Nadhir     Sulawesi Tengah
Harapan I     Djuariningsih, S.Pd., MM.     Bangka Belitung
Harapan II     Drs. Yunaidi     DI Yogyakarta

Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan
Juara I     YP. Wahyu Gunawan, SE, M.Si.     Jawa Tengah
Juara II     Eko Desriyanto, S.M.I, MM     Lampung
Juara III     Muhammad Sidiq K. Tomso     DI Yogyakarta
Harapan I     Andri Purwanto, ST     Bali
Harapan II     Rudi Santosa, ST., M.Pd.     Jawa Barat

Instruktur Kursus Tata Kecantikan Rambut
Juara I     Conie Conella, MKD.     DKI Jakarta
Juara II     Drs. Mahzar Chan     Sumatera Barat
Juara III     Reni Fitriana, S.Pd., MM.     DI Yogyakarta
Harapan I     Caroline     Nusa Tenggara Barat
Harapan II     Tri Puji Astuti, SPd.I     Jawa Barat

Instruktur Kursus Tata Busana
Juara I     Dra. SF. Aswiana, MM.     DI Yogyakarta
Juara II     Retno Tri Susanti, S.Pd.     Jawa Tengah
Juara III     Riswandi, S.Pd., M.Pd..T     Aceh
Harapan I     Afifatulhusna, S.Pd.     Jawa Timur
Harapan II     Hasdiana Saleh, S.Pd., M.Sn.     Gorontalo

Instruktur Kursus Tata Rias Pengantin
Juara I     Okie Surya Ikawati, S.Sn.     DI Yogyakarta
Juara II     Purwoko, S.Sn.     Jawa Tengah
Juara III     Megasari, Amd.     Jawa Barat
Harapan I     Kapti Lestariningsih     Jawa Timur
Harapan II     Sapariyanto H. Harun     Nusa Tenggara Barat

Instruktur Kursus Komputer
Juara I     Nopi Arahman     Jambi
Juara II     Dedy Salman, S.Pd.     Kalimantan Utara
Juara III     Chatarina Tri Anggorowati Ekowati, S.Pd.     DI Yogyakarta
Harapan I     Tata Nasution, S.Pd.I     Jawa Barat
Harapan II     M. Fajri Basuki, S.Kom.     Kalimantan Timur

Tutor Paket A
Juara I     Rahmi Muliani, S.Pd.     Sumatera Barat
Juara II     Rosdiana, S.Pd.     Kalimantan Timur
Juara III     Risa Ristiani     Jawa Barat
Harapan I     Andreast Wahyu Sugiyarta, S.Pd.     DI Yogyakarta
Harapan II     Faried Syafi’i, S.Si., M.Pd.     Jawa Timur

Tutor Paket B
Juara I     Dian Astutik W.S., S.Pd.     DI Yogyakarta
Juara II     Fadly Umadji, S.Pd.     Gorontalo
Juara III     Desy Rizkawati, S.Pd.     Jawa Barat
Harapan I     Ketut Sri Kusuma Wardani, S.Pd.     Bali
Harapan II     Rain Adhistya, S.Pd.     Jawa Tengah

Tutor Paket C
Juara I     Kade Restika Dewi, S.Pd., M.Pd.     Bali
Juara II     Bambang Susilo, S.Pd.     DI Yogyakarta
Juara III     Hj. Ita Yuliana, S.Pd., M.Pd.     Kalimantan Selatan
Harapan I     Iman Haris Munajat, S.Pd.I.     Jawa Barat
Harapan II     Muhammad Kurtubi     DKI Jakarta

Paduan Suara
Juara I     Papua
Juara II     Sulawesi Utara
Juara III     Sulawesi Tengah

Senam Poco-Poco Nusantara
Juara I     Bali
Juara II     Banten
Juara III     Jawa Timur

Sumber: Panitia [fauziep]

Tuesday, May 24, 2016

Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas Tingkat Nasional Tahun 2016 di Palu

Palu (23/05/2016) Sore tadi Gubernur Sulawesi Tengah, Drs. H. Longki Djanggola, M.Si., membuka secara resmi Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) PAUD dan Dikmas Tingkat Nasional Tahun 2016 di halaman Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Palu.


“Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas untuk menghargai para GTK yang berprestasi di tingkat provinsi. GTK PAUD dan Dikmas harus berada di ujung tombak pembelajaran dan pengelolaan pendidikan nonformal. Tujuan utama bukan untuk mencari pemenang tapi untuk merekatkan NKRI”, jelas Sumarna Surapranata, Ph.D, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, pada sambutan upacara pembukaan.

Untuk mendapatkan penghargaan tingkat nasional, para guru dan tenaga kependidikan PAUD dan Dikmas akan dinilai melalui tahapan penilaian naskah, tes tertulis (tes psikologi) dan presentasi. Terdapat 16 jenis GTK PAUD dan Dikmas yang akan beradu inovasi karya nyata untuk mendapatkan penghargaan yang terbaik. Keenambelas jenis GTK tersebut yaitu, Guru KB/TPA/SPS, Pengelola KB/TPA/SPS, Instruktur Komputer, Instruktur Tata Rias Rambut, Instruktur Tata Rias Pengantin, Instruktur Tata Busana, Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), Pamong Belajar pada Sanggar Kegiatan Belajar, Penilik, Pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM),Tutor Paket A, Tutor Paket B, Tutor Paket C, dan Kepala Sanggar Kegiatan Belajar.

“Para juara akan diundang ke Jakarta pada Simposium Guru pada bulan November 2016 yang juga akan dihadiri Presiden Republik Indonesia,” tambah Sumarna Surapranata.

Pada sambutannya, Gubernur Sulawesi Tengah, Drs. H. Longki Djanggola, M.Si., menyatakan bahwa tema kegiatan apresiasi tahun ini yaitu mulia karena karya sangat tepat dan relevan serta strategis dalam upaya meningkatkan kualitas PAUD dan Dikmas termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. “Hal ini sejalan dengan nawacita pemerintah saat ini dimana pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu perhatian pemerintah,” tambah Longki Djanggola.

Menutup sambutannya Gubernur Sulawesi Tengah berpesan agar kegiatan apresiasi ini juga dapat digunakan sebagai wadah bagi GTK PAUD dan Dikmas untuk selalu berinovasi, berpikir cerdas, berkarakter, profesional dan bertanggung jawab.

Kegiatan pembukaan didahului dengan defile kontingen 33 provinsi peserta melalui podium kehormatan. Masih ada satu kontingen, yaitu Maluku Utara yang masih dalam perjalanan karena kendala delay penerbangan.

Pada  pagi harinya diselenggarakan tes tertulis, berupa tes psikologi yang dilaksanakan pada empat hotel di kota Palu yang menjadi lokasi kegiatan Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas Tingkat Nasional Tahun 2016. [fauziep]
Sumber: fauziep.com

Saturday, May 21, 2016

Hadiah 30 Juta pada Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas 2016 di Palu

Acara tahunan Apresiasi insan guru dan tenaga kependidikan PAUD dan pendidikan masyarakat (GTK PAUD dan Dikmas) akan digelar  di Palu, Sulawesi Tengah.(22- 28 Mei 2016)
Ajang Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas merupakan wahana pemberian penghargaan bagi mereka yang sudah memberikan sumbangsih karya nyata inovasi di lapangan.

“Guru dan tenaga kependidikan merupakan faktor penting dalam penyelenggaraan program pembelajaran guna mendukung implementasi Revolusi Mental terutama dalam konteks mengubah karakter bangsa ke arah yang lebih baik,” ungkap Sumarna Surapranata, Ph.D Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud. 

Guru dan tenaga kependidikan perlu diberikan penghargaan sesuai dengan prestasi yang dicapai dan dedikasi dalam melaksanakan tugas pembelajaran di berbagai wilayah Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan termasuk bagi guru (pendidik) dan tenaga kependidikan PAUD dan Dikmas yang berada pada jalur pendidikan nonformal.

Untuk mendapatkan penghargaan tingkat nasional, para guru dan tenaga kependidikan PAUD dan Dikmas akan dinilai melalui tahapan penilaian naskah, tes tertulis (tes psikologi) dan presentasi. Terdapat 16 jenis GTK PAUD dan Dikmas yang akan beradu inovasi karya nyata untuk mendapatkan penghargaan yang terbaik. Keenambelas jenis GTK tersebut yaitu, Guru KB/TPA/SPS, Pengelola KB/TPA/SPS, Instruktur Komputer, Instruktur Tata Rias Rambut, Instruktur Tata Rias Pengantin, Instruktur Tata Busana, Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), Pamong Belajar pada Sanggar Kegiatan Belajar, Penilik, Pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM),Tutor Paket A, Tutor Paket B, Tutor Paket C, dan Kepala Sanggar Kegiatan Belajar.

Kegiatan apresiasi ini mampu meningkatkan antusias para guru PAUD, tutor, instruktur, pamong belajar serta tenaga kependidikan lainnya. Antusias meraih asa, meraih prestasi. Prestasi yang mampu meningkatkan rasa percaya diri, lebih dari itu pengakuan atas inovasi karya nyatanya. Bukan karya tulis yang dibuat seakan karya nyata. Paling tidak hadiah 30 juta rupiah bagi juara I, 25 juta rupiah juara II, 20 juta rupiah juara III, 15 juta rupiah juara IV dan 10 juta rupiah juara V menjadikan daya tarik sendiri bagi kalangan guru dan tenaga kependidikan pada jalur pendidikan nonformal ini. Bahkan bagi peserta yang tidak memperoleh kejuaraan akan tetap diberi penghargaan berupa imbal prestasi sebesar 5 juta rupiah. Penghargaan atas prestasinya yang mampu tampil di tingkat nasional.

Di samping itu, kegiatan apresiasi ini dapat dijadikan sebagai ajang untuk berbagi inovasi karya nyata. Karena itulah presentasi karya nyata tidak dilakukan secara tertutup, melainkan secara terbuka. Pelaksanaan presentasi secara terbuka diharapkan peserta dapat saling mencermati dan menyerap pengalaman baik (best practice) peserta lainnya yang dapat diaplikasikan di daerahnya masing-masing. Karya nyata terbaik tidak ada artinya jika tidak mampu dibagikan kepada orang lain. Tidak dapat diaplikasikan pada daerah lain, tentu saja dengan melakukan penyesuaian.[fauziep]

Sumber: Pencerahan Pendidikan Nonformal

Thursday, May 19, 2016

Lomba Tutor PKBM Berprestasi Kota Tangsel Banten 2016


PKBM Tangsel-  Dalam rangka pemberdayaan Pendidikan Non formal , Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan mengadakan lomba Tutor berprestasi Tingkat Kota Tangserang Selatan (17/5) di Gedung 123 Graha Widya Bhakti Puspitek Serpong Tangsel, Banten.


 
Acara ini di ikuti oleh sebelas orang peserta, tutor dari  dari PKBM di kota Tangerang selatan antara lain, PKBM Kak Seto,  PKBM  Bina Insan Kamil, PKBM Insan Karya, PKBM Technosa, PKBM Indonesia Cerdas.

" Kegiatan ini adalah kegiatan  rutin yang di adakan oleh dinas pendidikan kota Tangerang Selatan, dan menjadi ajang seleksi tutor-tutor paket A, Paket B dan paket C yang berprestasi di kota Tangerang selatan untuk ikut serta lomba di tingkat propinsi Banten maupun di tingkat Nasional." demikian di sampaikan oleh Sadelih Ibrahim Kasie PNFI dalam sambutan pembukaannya  mewakili Kepal Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan.