Saturday, November 21, 2015

Gubernur Banten Raih Penghargaan Anugerah Aksara Utama


Serang - Gubernur Banten Rano Karno menerima penghargaan “Anugerah Aksara Utama” dari Menteri Pendidikan Nasional atas kinerja dan kepedulian yang tinggi dalam percepatan pemberantasan buta aksara di Provinsi Banten.

Penghargaan Anugerah Aksara Utama ini diserahkan oleh Mendikbud yang diwakili oleh Dirjen Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Herman Syamsudin dan Direktur UNESCO Office Jakarta Syahbaskhan, pada acara Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional Tingkat Nasional ke-50 Tahun 2015, di lapangan Karangpawitan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu (24/10).

Gubernur Banten Rano Karno di sela-sela kegiatan menegaskan, kerjasama yang baik antara Pemerintah Kabupaten dan Kota terutama Dinas Pendidikan khususnya PKBM dan Kelompok Belajarnya harus terus ditingkatkan baik penguatan program, anggaran, orientasi maupun monitoring dan evaluasi.

"Sebenarnya leading sektornya ada di Kabupaten dan Kota, jadi pimpinannya harus fokus terhadap masalah itu, apalagi nanti di desa ada anggaran desa, mudah-mudahan bisa membantu," kata Rano.

Keberhasilan meraih penghargaan Anugerah Aksara Utama ini, menurutnya merupakan sumbangsih para ujung tombak pelaksana dan pegiat program Keaksaraan terutama para tutor kelompok belajar di bawah koordinasi PKBM dan untuk itu semua kita sampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih.

"Kita berharap dengan penghargaan yang diraih saat ini dapat memotivasi kita semua, komponen dan lembaga masyarakat, stakeholder, pemerintah daerah dan lain-lain di Banten untuk dapat menuntaskan semua permasalahan buta aksara. Dan melalui kebersamaan kita wujudkan masyarakat Banten sebagai daerah tuntas buta aksara," katanya.

Pelayanan dan kepedulian menuntaskan buta aksara menurutnya, merupakan suatu hal yang mengharukan, jika semua masyarakat dapat membaca dan mampu membangun kecerdasannya. Dengan kemampuan membaca seakan-akan telah membuka pintu untuk kehidupan yang lebih baik.

"Kita harus mengerti dan paham apa yang kita baca, bukan hanya sekedar bisa membaca, dan yang paling sulit adalah implementasinya," jelasnya.

Ia mengakui, beberapa daerah di Banten masih banyak warga yang buta aksara. "Masih ada empat daerah yang masih tinggi, seperti Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak dan Kabupaten Tangerang. Ini menjadi PR kita semua," ucap Rano.

Rano optimistis, dua tahun mendatang jumlah masyarakat yang buta aksara akan semakin berkurang bahkan bisa dientaskan seluruhnya. "Pemprov Banten telah mencanangkan sejumlah program. Seperti melalui program perekonomian, kami membentuk kelompok masyarakat membuat olahan, bukan hanya keuntungan ekonomi yang didapat, tapi melalui program tersebut masyarakatpun bisa sambil diajarkan aksara," kata Rano.

Selain Gubernur Banten, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) kreatif dan rekratif di menangkan TBM Sumlor dengan Ketua Ahmad Lugas Kusnadi dari Kabupaten Lebak, dan tutor keaksaraan dasar Ismawati dari PKBM Satu Bangsa Kabupaten Serang.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Engkos Kosasih menyebutkan, sejak tahun 2010 jumlah masyarakat yang berhasil bebas dari buta aksara jumlahnya sangat signifikan. Dimana pada tahun tersebut masyarakat yang masih buta aksara sebanyak 218 ribu orang, kemudian saat ini sudah berkurang menjadi 51 ribu orang.

"Sejak tahun 2010 Pemprov Banten telah melaksanakan sejumlah program untuk meminimalisir jumlah buta aksara tersebut, baik program yang berbasis pendidikan formal maupun budaya," kata Engkos.

Selain program, lanjut Engkos, untuk mengetaskan buta aksara pihaknya pun terus meningkatkan anggaran setiap tahunnya. Untuk tahun ini, jumlah anggaran yang disiapkan sekitar Rp5 milyar. "Tahun ini sekitar Rp5 milyar, tahun depan akan dterus ditingkatkan lagi," kata Engkos saat mendampingi Gubernur menerima penghargaan.

Dirjen Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Kemendikbud Herman Syamsudin menerangkan, pagelaran Hari Aksara Internasional (HAI) tahun ini adalah momentum bagi Kemendikbud untuk melanjutkan program pendidikan non formal. Saat ini, banyak lembaga penyelenggara program keaksaraan seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) memiliki unit usaha yang dikelola oleh alumni dari warga belajar pendidikan keaksaraan.

"Setelah sebelumnya lebih banyak berfokus pada pendidikan formal, kali ini kami akan kembali memfokuskan diri pada pendidikan non formal," ujarnya.

Pada kegiatan tersebut lanjut Herman, diselenggarakan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebanyak 50.000 warga belajar bebas tuna aksara menulis surat dan Warga Belajar Membaca Ikrar/Janji Belajar Sepanjang Hayat. Di samping itu ada berbagai kegiatan seperti talkshow gerakan Indonesia membaca, pameran pendidikan dan lomba.


"Melalui kegiatan peringatan ini diharapkan program pendidikan keaksaraan dalam rangka pemberantasan buta aksara dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dengan baik untuk membangun keadaban dan keunggulan pembangunan berkelanjutan di Indonesia," katanya.

Sumber : humasprotokol.bantenprov

No comments:

Post a Comment